Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Senin , 15 April 2024
Breaking News
You are here: Home » Inspirasi » Faruq Ahmad Futaqi : “Kapan Kita Sejahtera? Perlu Langkah Terstruktur, Sistematis dan Masif untuk Mencapainya”

Faruq Ahmad Futaqi : “Kapan Kita Sejahtera? Perlu Langkah Terstruktur, Sistematis dan Masif untuk Mencapainya”

Dalam grand design Indonesia Emas tahun 2045 diharapkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat berpenghasilan tinggi. Jika memakai ukuran nishob zakat saat ini. Minimal berpenghasilan Rp 7 juta per bulan. Uang Rp 7 juta saat ini kira-kira bisa jadi Rp 15 juta per bulan di tahun 2045.

Lebih cepat dari itu. Melalui SDGs, negara-negara di dunia mencanangkan tanpa kemiskinan dan tanpa kelaparan pada tahun 2030.

Nampaknya hal ini tidak akan terjadi. Bank Dunia telah memprediksi sekitar 600 juta orang masih harus berjuang lepas dari kemiskinan tahun 2030.

BAZNAS dalam grand designnya mencanangkan tahun 2035 mampu mengkonversi mustahik menjadi muzaki. Walaupun tampaknya hal ini pun tidak mudah untuk direalisasikan.

LAZISMU dalam renstranya 2020-2025 menetapkan penguatan inovasi sosial berkelanjutan dan 2025 -2030 menetapkan pencapaian SDGs dan MDGs. LAZISMU sebagaimana target global, mencanangkan pencapaian SDGs di tahun 2030.

Saat ini seluruh energi filantropi digerakkan untuk menciptakan kesejahteraan di masa depan. Visi ini menjadi penting. Sehingga setiap kegiatan yang dilakukan memiliki jalan yang jelas. Termasuk dalam tasaruf ZIS. Menjadikan orang sejahtera di tahun 2045, atau lebih cepat dari itu.

Saya sendiri sulit membayangkan. Apakah kesejahteraan orang Indonesia akan benar-benar terealisasi pada tahun 2045. Atau malah kesenjangan yang akan melebar begitu luas.

Empat tahun lalu BankZiska LAZISMU didirikan. Menangani bagian kecil saja dari kompleksnya masalah kemiskinan negeri ini.

Tidak mudah memang. Namun, setidaknya ikhtiar ini telah dimulai. Dalam pemahaman saya. Ceruk kemiskinan akan terus lestari dalam sistem ekonomi kapitalis.

Pemerintah setidaknya telah dan sedang mengatasi kemiskinan dengan 2 jalan populis. Pertama mengurangi beban hidup, kedua menambah pendapatan. Program bansos berupa sembako beras telur minyak daging dan lain lain adalah cermin yang pertama. Sedangkan BLT, pelatihan dan sebagainya adalah manifestasi yang kedua.

Hemat saya, penyaluran dana Zakat Infak dan sedekah atau ZIS memang sebaiknya difokuskan pada program produktif dan pemberdayaan. Karena basic need nya telah “dicukupi” oleh Pemerintah.

Dalam Rakerwil LAZISMU Jatim jatim awal Januari 2024 lalu, tasaruf program produktif disepakati 80%. Hal ini bagi saya hanyalah stimulus pemberdayaan. Artinya, memicu orang supaya berdaya. Belum pada menjadikannya sejahtera. Perlu effort lebih.

Lalu kapan orang bisa sejahtera? Saat nanti penghasilan mereka minimal Rp 7 juta per bulan. Padahal rata-rata UMP tidak sampai Rp 4 juta. Butuh waktu dan energi yang besar untuk ini.

Hari ini BankZiska LAZISMU melaunching program Mie pemberdayaan. Sebagai ikhtiar, menuju jalan kesejahteraan bagi para mustahik. Awal ini ada 4 orang mitra. Disumbang 2 unit gerobak dari donasi Ustadz drh Zainul Muslimin, Bendahara Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Hemat saya, menciptakan iklim pemberdayaan penting dilakukan. Sesegera mungkin, Terstruktur Sistematis dan Masif, TSM. Sehingga milieu pemberdayaan menjadi urat nadi di masyarakat. Pada akhirnya nanti orang tidak harus antri beras atau sembako bantuan. Karena mereka telah bisa membeli dan sejahtera.

Semoga umur kita panjang dan berjumpa dengan kesejahteraan masyarakat pada tahun 2045, syukur-syukur lebih cepat dari tahun itu.

Faruq Ahmad Futaqi Manager Bankziska LAZISMU Jatim kantor utama Ponorogo dan anggota Badan Pengurus LAZISMU wilayah Jawa Timur.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*