Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Rabu , 19 Januari 2022
Breaking News
You are here: Home » Bencana & Kemanusiaan » Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah Guna Mitigasi Bencana di Pesisir Pantai Selatan Jawa Timur

Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah Guna Mitigasi Bencana di Pesisir Pantai Selatan Jawa Timur

Kit Relawan Siaga Bencana MDMC – Lazismu Jatim

Jawa Timur adalah salah satu provinsi yang memiliki generator gempa dari zona subduksi lempeng di Samudra Hindia dan sesar aktif daratan. Dengan adanya daerah yang berhadapan dengan zona subduksi, maka Kawasan pesisir pantai selatan Jawa Timur berpotensi dilanda tsunami. Hal ini disebabkan pula dengan adanya zona seismic gap didaerah selatan Jawa Timur, dimana zona yang seharusnya rekatif aktif secara tektonik namun jarang terjadi gempa signifikan dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga menyebabkann energi gempa yang terakumulasi (BMKG 2020).

Muhammadiyah adalah organisasi Islam terbesar di Indonesia yang memiliki jumlah amal usaha persyarikatan, sperti sekolah/pondok pesantren, rumah sakit/klinik dan juga masjid. Terdapat 8 (delapan) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) yang berada di Kawasan pesisir pantai selatan yang belum cukup menerapkan konsep kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa dan tsunami di daerah. Disamping itu pula mereka belum memiliki keterampilan dalam upaya pengurangan resiko bencana gempa dan tsunami.

Oleh karena itu, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur dalam hal ini melalui Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan Lazismu PWM Jawa Timur mengadakan Program penguatan kapasitas persyarikatan di pesisir pantai selatan Jawa Timur.

Menurut M Rofii, Ketua MLHPB atau MDMC Jawa Timur (17/07/21) di Gedung PWM Jatim Jl Kertomenanggal IV/1 Surabaya, Workshop dilaksanakan selama dua hari, 17-18 Juli 2021 secara Daring atau melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini diikuti sekitar 60 orang peserta yang terdiri dari perwakilan PDM, Relawan MDMC dan Amil Lazismu dari 8 Daerah di Jawa Timur yang kawasannya rawan gempa dan Tsunami.

Rofii menjelaskan bahwa program ini merupakan upaya untuk menguatkan kapasitas dan meningkatkan keterampilan bagi 8 PDM beserta ortomnya di sepanjang pesisir pantai selatan Jawa Timur dalam menghadapi potensi gempa dan tsunami. Dimana di setiap PDM memiliki AUM yang berpotensi terdampak Ketika gempa dan tsunami terjadi.

Disamping itu, lanjut Rofii, langkah ini merupakan penguatan sistem One Muhammadiyah One Response (OMOR) bagi warga persyarikatan sebagai wujud peningkatan pengetahuan untuk berkoordinasi dan berkomunikasi pada saat tanggap darurat bencana.

Tujuan utama program ini adalah Membangun budaya siaga, budaya aman dan budaya pengurangan risiko bencana, serta membangun ketahanan warga persyarikatan dalam menghadapi bencana secara terencana, terpadu dan terkoordinasi dengan pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Disamping itu, tambah Rofii, MDMC juga menyebarluaskan dan mengembangkan pengetahuan kebencanaan ke warga persyarikatan. Tak lupa MDMC juga akan memberikan rekomendasi kepada pihak terkait tentang kondisi struktur bangunan dan aksesibilitas lingkungan Amal Usaha Muhamamdiyah sebagai upaya pengurangan risiko bencana yang menjangkau semua warga.

Rofii secara detail menjelaskan bahwa program ini memiliki 3 kegiatan utama, yaitu persiapan, pelaksanaan dan MEAL. Persiapan, adalah kegiatan awal yagn melingkupi pembuatan rencana kerja dan dokumen persiapan serta pengenalan program pada pimpinan Muhammadiyah Wilayah Jawa Timur. Pelaksanaan, dalam tahap ini terdapat kegiatan yaitu pelatihan dan lokakarya serta simulasi dengan konsep table top exercise (TTX). MEAL, Monitoring Evaluation Accountability & Learning adalah tahapan pengawasan pada setiap detail kegiatan.

“Kami ingin para Relawan dan Pimpinan Muhammadiyah di kawasan rawan gempa dan tsunami, memiliki pemahaman terkait dengan manajemen bencana dan kerawanan daerahnya masing-masing. Mereka memiliki peta potensi dan letak potensi AUM di daerahnya terutama yang berada di titik rawan gempa dan tsunami. Relawan juga wajib memiliki keterampilan dalam berkoordinasi dan berkomunikasi pada pra-bencna, saat tanggap darurat dan pascabencana” harap Rofii.

“Alhamdulillah, para narasumber yang turut memberikan materi diantaranya Dr Amien Widodo (Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim -Puslit MKPI- ITS), Budi Setiawan (ketua MDMC Pusat) dan dr. Imam Suyuti, Sp.An (MDMC Jawa Timur). Materi yang disampaikan oleh Dr Amien Widodo adalah Updating Kondisi Lempeng Bumi di Selatan Pulau Jawa (khususnya wilayah Prov. Jawa Timur). Budi Setiawan memberikan materi tentang Fiqh Kebencanaan dan dr Imam Suyuti, Sp.An menyampaikan penanganan bencana saat pandemi” jelas Rofii.

“Program ini adalah program percontohan, dimana harapannya adalah di masing-masing daerah maupun rayon kerja MDMC dapat menduplikasikannya sebagai upaya pengurangan resiko bencana berdasrkan kemampuan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki. Tujuan akhirnya adalah Pimpinan Muhammadiyah (wilayah dan daerah) memiliki  persepsi yang sama dalam penanggulangan bencana. Seiring dan sejalan.” pungkas Rofii. (adit)

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*