Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Senin , 17 Januari 2022
Breaking News
You are here: Home » Ekonomi » Lambang Sari Buana : “No Trust No Business. Bersama Lazismu Mari Kita Melawan Riba!”

Lambang Sari Buana : “No Trust No Business. Bersama Lazismu Mari Kita Melawan Riba!”

Gontor, sebuah nama yang identik dengan Pondok Pesantren Modern bersejarah. Pada tanggal 25 – 26 September 2021, Lazismu Jawa Timur mengadakan Pelatihan Pengelola BANKZISKA di kawasan ini. Pelatihan diberikan kepada seluruh praktisi program Lazismu daerah di wilayah Jawa Timur. Termasuk juga KL Lazismu berbasis Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).

Menariknya, ada Lazismu dari wilayah lain hadir, yaitu Kepulauan Riau, Banjar Baru, DI Yogyakarta dan Pekalongan, Jawa Tengah.

Pelatihan kali ini bertempat di Kampus UNIDA Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Adapun tema besar yang diangkat adalah “Membangun Ekonomi Tanpa Riba.”

BankZiska sendiri adalah Bantuan keuangan dari dana Zakat, Infak, Sedekah dan dana Sosial Keagamaan lainnya. Yang merupakan ide brilian dan genuine Lazismu Jatim.

Acara yang dibuka oleh Ustadz drh Zainul Muslimin sebagai ketua Lazismu Wilayah Jawa Timur ini cukup menarik. Untuk menjawab pertanyaan besar, “bagaimana caranya agar lazismu bisa berperan dalam transformasi seseorang dari mustahik menjadi muzaki. Harus mampu mengubah seseorang dari tangan dibawah menjadi tamgan diatas. Mengubah seorang dari penerima zakat, menjadi pembayar zakat.”

Sementara itu Direktur Lazismu Muhammad Sabeth Abilawa mengatakan bahwa program ini layak disupport penuh. Jika kelak sukses story didapat, maka program ini harus diduplikasi di wilayah dan daerah lain.

Mengapa program seperti ini bisa sukses di daerah semacam Ponorogo dan mengalami kesulitan berkembang di daerah perkotaan ?

Menurut Mas Sabeth, karena memiliki modal sosial. Karena trust yang sangat besar. Baik di lembaga Amil zakat, Lazismu, maupun mustahik yang dibantu.

Trust yang besar dari kedua belah pihak inilah yang bisa dikapitalisasi menjadi program kerakyatan yang sustainable.

Goal besarnya adalah Muztahik yang dibantu bankziska akan terangkat derajat ekonominya. Membantu mereka keluar dari jeratan rentenir, lintah darat dan pinjaman online.

Setelah mereka dibantu bankziska, maka dalam waktu 9 bulan kedepan, para Mustahik sudah bankable. Mereka pasti bisa mengakses dara usaha murah dari perbankan dan BTM (Baitut Tamwil Muhammadiyah).

Mari, bersama Lazismu kita melawan riba dengan karya nyata.

End Game of Bankziska

“Ini tidak mudah. Bahkan sangat sulit, tapi saya yakin bisa. Program Bankziska harus menjadi role model. Menjadi program unggulan Lazismu se Indonesia,” kata ustadz drh Zainul Muslimin, Ketua Lazismu Jatim.

Memang menarik bisa berdiskusi langsung dengan ustadz alumni Kedokteran Hewan IPB ini. Disela sela kesibukannya mengelola Lazismu Jawa Timur.

Bayangkan saja betapa sibuknya ustadz ini. Pada hari Sabtu dan minggu megawal sendiri Pelatihan Pengelolaan Bankziska di Ponorogo. Hari minggunya memimpin rapat dan berdiskusi dengan beberapa kolega di Surabaya. Dan Sabtu pagi sudah sudah berada di kota apel, Malang.

“Njenengan opo ora kesel ustadz ?”

“Enggak. Wis biasa begini …,” jawab ustadz berbadan tambun ini sambil terkekeh.

“Ustadz, bolehkah saya tahu, tolong dijawab sejujurnya. sebenarnya apa goal dari bankziska ? Apa big dream dari big picturenya ? Endgame nya itu seperti apa ? Menurut saya, adalah tidak mungkin kita bisa menyediakan dana terus menerus dengan sekema Qardul Hasan (pinjaman kebjikan).” Saya mencoba memberi sedikit argumentasi. Sekaligus menggali informasi.

“Begini lho pak Lambang…” kata sang ustadz.

“Kalau hari ini kita bisa memberi pinjaman tampa bunga. Lalu yang bersangkutan denga senang hati membayar tepat waktu. Maka itu artinya yang bersangkutan bisa dipercaya. Lalu kita pinjamkan lagi dengan nominal lebih besar. Jika melakukan kewajiban tepat waktu, maka trust kita kepada mereka bisa mencapai lebih dari 60%.” jelasnya.

“Terus setelah itu apa ustadz ?” Saya bertanya dengan exited.

“Kalau kita bisa memastikan bahwa orang tersebut membayar tiga kali periode putaran pinjaman, artinya orang tersebut bisa dipercaya. Orang tersebut bisa dikatakan trust able atau dalam bahasa kredit disebut bankable.” lanjutnya.

“Orang yang berstatus bankable dan trustable, dibutuhkan perbankan. Kita rekomendasikan orang-orang ini ke BPRS atau BTM (Baitut Tamwil Muhammadiyah).” tambahnya.

“Kalau kita sendiri, Lazismu, memang hanya pentasyarufan. Tetapi BTM pasti bisa mengkapitalisasi ini menjadi bisnis. Karena seluruh lembaga keuangan membutuhkan hal itu.” pungkasnya.

Hmm….

Saya dibuat manggut manggut mendengar ide brilian sang ustadz. Tak ada sanggahan lagi. Perfecto idea. Saya jadi teringat apa yang pernah dikatakan Mochtar Riyadi, “Sejatinya bisnis perbankan dan bisnis asuransi bukanlah bisnis uang. Melainkan bisnis kepercayaan. Nasabah dan bank harus bisa sama sama dipercaya.”

No trust no business.

Lambang Sari Buana, Direktur PT SSU, Badan Usaha Amil Lazismu Pusat, di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*