Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Senin , 8 April 2024
Breaking News
You are here: Home » Kolom ZISKA » Dr Hamim Ilyas : “LAZISMU, Islam Rahmatin Lil’Alamin dan Sustainable Development Goals”

Dr Hamim Ilyas : “LAZISMU, Islam Rahmatin Lil’Alamin dan Sustainable Development Goals”

Dr Hamim Ilyas MA

Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, sebagai lembaga, menentukan pola kehidupan manusia  dengan standar yang jelas dalam al-Qur’an. Standar ini harus digunakan umat supaya kehidupan islami dalam semua bidang yang mereka perjuangkan sesuai dengan ajaran al-Qur’an. Agar tidak salah jalan sehingga berhasil dalam berjuang, mereka harus menggunakan managemen, terutama managemen strategis yang mengkaji putusan-putusan mendasar untuk mencapai tujuan lembaga. Putusan-putusan mendasar Islam Rahmatan Lil ‘Alamin yang harus mereka gunakan setidaknya meliputi: tujuan, visi, misi, dan program. Perwujudan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dengan kerangka managemen strategis ini sekarang pas dengan Sustainable Develompment Goals (SDGs).

Tujuan Islam Rahmatin Lil’Alamin

Tujuan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin, sebagaimana telah beberapa kali penulis sampaikan, terdapat dalam al-Anbiya, 21: 107 yang menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam, rahmatan  (rahmah)  lil ‘alamin. Rahmah ialah riiqqah  taqtadli al-ihsan ila al-marhum, perasaan lembut (cinta)  yang mendorong untuk memberikan kebaikan  nyata kepada yang dikasihi. Berdasarkan pengertian ini maka Islam diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad untuk  mewujudkan kebaikan  nyata bagi seluruh makhluk Allah.

Kebaikan nyata dalam pengertian yang paling luas adalah hidup baik yang dalam  an-Nahl, 16: 97 disebut hayah thayyibah dan hanya dapat diwujudkan dengan amal saleh dan menjadi orang beriman (mukmin).  Dalam tafsir sahabat, hayah thayyibah meliputi 3 kriteria: rejeki halal (Ibn Abbas dalam satu riwayat), qana’ah/kepuasan (Ali bin Abi Thalib) dan kebahagiaan (Ibn Abbas dalam riwayat yang lain). Tafsir sahabat ini sejalan dengan perolehan iman dan amal shaleh yang  disebutkan dalam   al-Baqarah, 2: 62 dan menjadi kriteria hayah thayyibah yang diajarkan al-Qur’an:

  1. lahum ajruhum ‘inda rabbihim (sejahtera sesejahtera-sejahteranya/ ar-rafahiyyah kulluha);
  2. wa la khaufun ‘alaihim (damai sedamai-damainya/as-salamu kulluha); dan
  3. wa la hum yahzanun (bahagia sebahagia-bahagianya/as-sa’adatu kulluha) di dunia dan di akhirat.

Visi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Visi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin diisyaratkan dalam Ali Imran, 3: 139 yang menegaskan bahwa kaum Musliminan adalah umat yang tertinggi; dan dalam hadis populer riwayat ad-Daraquthni dari sahabat ‘Aidz bin ‘Amr (juga Umar bin Khathab) yang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang unggul dan tidak diungguli (al-Islam ya’lu wa la yu’la ‘alaih).

Berdasarkan ayat dan hadis ini dan dengan memperhatikan tujuan di atas, dapat dirumuskan bahwa visi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah, “Terwujudnya umat yang unggul dalam mewujudkan hidup yang sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya dan bahagia sebahagia-bahagianya (hayah thayyibah) bagi semua di dunia dan akhirat.

Misi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Misi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin sudah barang tentu sejalan dengan misi Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya,  yang berulang-ulang ditegaskan dalam  al-Qur’an, sebagai basyir (mubassyir) dan nadzir (mundzir). Basyir dibentuk dari bisyarah (busyra) yang berarti kabar yang menggembirakan (Al-Ashfahani, t.t.: 45) dan nadzir dibentuk dari nadzr yang berarti menyampaikan sesuatu dan menganjurkan kewaspadaaan terhadapnya (Ibn Mandhur, 1997: V, 201) seraya menakut-nakuti (Al-Ashfahani, t.t.: 508). Berdasarkan ini misi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin adalah memberi kabar gembira dan peringatan dalam masyarakat tentang segala yang harus diwaspai dalam mewujudkan (hayah thayyibah).

Dalam al-Qur’an ada gambaran tentang angin yang disebut sebagai busyr (kabar gembira) dan mubasysyir (pemberi kabar gembira) dengan manfaatnya yang besar  (al-Furqan, 25: 48); ar-Rum, 30: 46 dan 48; Fathir, 35: 9; dan al-Jatsiyah, 45: 5). Gambaran ini menunjukkan bagaimana misi memberi kabar gembira yang diemban Islam Rahmatan Lil ‘Alamin seharusnya dilaksanakan umat.

Pertama, meneduh-sejukkan. Angin meneduh-sejukkan dengan membawa uap air lautan ke udara yang kemudian menjadi awan, yang ketika menggantung di langit bisa meneduhkan orang yang berada di luar ruangan, khususnya jalan; dan dengan berhembus di daratan, ia dapat menyejukkan siapapun yang kegerahan. Adapun Islam Rahmatan Lil ‘Alamin meneduh-sejukkan dengan risalah yang menaungi manusia dengan segala kompleksitas kehidupannya. Dengan risalah ini Islam Rahmatan Lil ‘Alamin membawa pesan-pesan Allah yang memberi inspirasi untuk membangun kehidupan yang baik.

Kedua, menyuburkan. Angin menyuburkan dengan membawa mendung yang turun menjadi hujan dan mengubah tanah yang semula tandus menjadi subur. Adapun Islam Rahmatan Lil ‘Alamin menyuburkan dengan menebarkan ide-ide yang memberi inspirasi dan solusi yang menjadi basis masyarakat membangun sistem kepercayaan, nilai, pengetahuan, lembaga dan artefak untuk mewujudkan kebudayaan yang maju. Ini berarti dia telah mengeluarkan mereka dari gelap menuju ke terang sebagaimana yang ditegaskan dalam banyak ayat al-Qur’an. Dengan basis konstruksi itu, umat ketika masih mengikuti Islam yang otentik pada zaman rintisan dan keemasan dapat membangun peradaban besar yang dalam sejarah  dikenal sebagai the myracle of religion.

Ketiga, membuahkan. Angin membuahkan dengan membawa serbuk sari ke tumbuh-tumbuhan tertentu yang telah keluar putiknya sehingga dapat berbuah. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dengan risalahnya membuahkan melalui penyebaran ide-ide yang telah dijadikan basis pembangunan sistem-siestem kebudaayan di atas. Dengan basis itulah dulu bisa lahir orang-orang saleh yang menjadi pewaris bumi dan surga. Di dunia mereka menjadi tokoh-tokoh besar yang berpengaruh dalam sejarah yang sumbangannya diakui dunia. Michael H. Hart telah mensurvei 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia dan menemukan 2 Muslim yang termasuk di dalamnya:  Nabi Muhammad (ranking pertama) dan Khalifah Umar bin Khatab (ranking ke-52).

Keempat, mengharumkan. Angin mengharumkan dengan membawa bau harum yang ada di satu tempat berpindah ke tempat lain. Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dengan risalahnya mengharumkan nama orang-orang beriman. Nama mereka tidak hanya dikenal di kalangan kaum seiman, tapi juga di kalangan umat beragama lain, bahkan sampai mendunia.

Program Pembangunan  Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

Sesuai dengan tujuan, visi dan misi Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di atas; dan dengan kedudukan manusia sebagai wakil (khalifah) Allah yang harus menyelenggarakan kehidupan di bumi, program Islam Rahmatan Lil ‘Alamin sudah barang tentu adalah pembangunan manusia seutuhnya. Pembangunan ini  meliputi seluruh bidang kehidupan, yang penjabarannya  dalam al-Qur’an di antaranya adalah 10 bidang berikut:

Pertama, agama. Agama yang diajarkan al-Qur’an dan  diharapkan menjadi pedoman dalam perilaku keagamaan umat Islam adalah agama dengan landasan, kerangka dan bangunan rahmat. Landasannya berupa keimanan kepada Allah yang inti sifat-Nya adalah rahmat (tauhid rahamutiyah), kepada Nabi Muhammad dan al-Qur’an yang diutus dan diwahyukan sebagai rahmat. Kerangka teologisnya adalah: ad-din al-qayyim (agama yang tegak karena memiliki inilai-nilai spiritual, moral dan emansipatoris); ad-din al-khalish (agama murni yang menghindarkan manusia dari degradasi kehidupan) dan din al-haq  (agama kebenaran yang menghindarkan manusia dari kerugian –khusr- baik sebagai pribadi, keluarga, komunitas,  masyarakat maupun bangsa). Dan bangunan organisasinya  adalah Islam kaffah (keberagamaan tri-dimensi, peradaban materiel-spirituil, dan integrasi sosial-politik).

Kedua, negara. Negara yang diajarkan al-Qur’an dan menjadi pedoman dalam perilaku hidup bernegara  adalah: baladan aminan (negara yang aman dan damai), baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (negara adil, makmur, memiliki wawasan lingkungan hidup, kejahatan di dalamnya bisa dikendalikan atau diminimalisir) dan al-balad al-amiin (negara yang amanah menjamin hak-hak asasi warga negara).

Ketiga, politik. Politik yang diajarkan al-Qur’an adalah penyelenggaraan negara yang berdasarkan asas-asas: menjamin hak asasi warga negara (an tu’addul amanat ila ahliha), keadilan (an tahkumu bil ‘adl), kebaikan semua bidang kehidupan (athi’ullah), negara sejahtera (athi’ur rasul), perwakilan (ulil amri) dan asas legalitas (farudduhu ilallah warrasul).

Keempat, ekonomi. Ekonomi yang diajarkan al-Qur’an adalah ekonomi yang  makmur (raghadan haitsu syi’tuma); kuat menegakkan semua bidang kehidupan (amwalakum qiyaman); pemerataan dengan ketimpangan seminimal mungkin (li kay la yakuna dulatan bainal aghniya’); tidak boros dalam semua kegiatannya: produksi, distribusi dan konsumsi (wa la tubadzir, innal mubadzirin kanu ikhwanas syayathin); dan tidak mengandung kebatilan (riba, gharar, maisir, kedhaliman, dan paksaan).

Kelima, sosial. Masyarakat yang diajarkan al-Qur’an dan menjadi pedoman dalam hidup bermasyarakat adalah masyarakat dengan sistem sosial  egalitarianisme (kana an-nas ummah wahidah); dengan struktur sosial pluralisme (ja’alnakum syu’uban wa qabaila li ta’arafu); dengan pola interaksi: akomodasi, bukan persaingan dan konflik (an tabarruhum wa tuqsithu ilaihim); dan dengan kejiwaan berjiwa besar (ummatan wasatha); dan kepribadian masyarakat unggul,   berada di depan dalam semua kebaikan (fastabiqul khairat).

Keenam, budaya. Budaya yang diajarkankan oleh al-Qur’an adalah budaya transformatif-progresif, yakni budaya  dinamis dengan perubahan yang terus-menerus untuk memperbaiki kualitas kehidupan (innallah la yughayyiru ma bi qaum hatta yughayyiru ma bi anfusihim). Perubahan itu terjadi dalam semua tujuh unsur kebudayaan : peralatan dan perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian dan sistem ekonomi, sistem kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan, dan religi.

Ketujuh, hukum. Hukum yang diajarkan al-Qur’an adalah hukum yang bersendikan keadilan (an tahkumu bil ‘adl) dan kepatutan (al-ma’ruf). Hukum yang adil ini adalah yang tidak bertentangan dengan moral, sehingga hukum itu menjamin persamaan manusia, kebebasan dan kerjasama di antara mereka. Hukum yang demikian bisa hukum agama dan hukum positif.

Kedelapan, pendidikan. Pendidikan yang diajarkan al-Qur’an adalah pendidikan yang dapat mengantarkan peserta didik untuk hidup sejahtera (hayah thayyibah) melalui amal saleh (8 hukum kebaikan: berbadan baik, berjiwa baik, beragama baik, berbudi pekerti baik, berilmu baik, bermasyarakat baik, berekonomi baik dan berlingkungan baik).

Kesembilan, ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diajarkan al-Qur’an adalah ilmu pengetahuan yang meninggikan derajat (yarfa’illahu all-ladzina amanu minkum walladzina utul ‘ilma derajat). Derajat yang ditinggikan oleh ilmu itu adalah derajat semua bidang kehidupan, masing-masing dengan tingkatan-tingkatannya sendiri, seperti ekonomi dengan tingkatan moda produksi dengan tenaga manusia, tenaga hewan dan tenaga mesin. Di samping itu ilmu tersebut juga membuat pemiliknya mempunyai spiritualitas yang tinggi (innama yakhsyallah min ‘ibadihil ulama’).

Kesepuluh, keluarga. Keluarga yang diajarkan al-Qur’an adalah keluarga sakinah (li taskunu ilaiha) yang berdasarkan rahmah (cinta aktual) dan mawaddah (cinta potensial). Dalam keluarga demikian, hak dan kewajiban isteri seimbang (wa lahunna mitslul ladzi ‘alaihinna bil ma’ruf) dan hubungan suami-isteri diselenggarakan dengan mu’asyarah bil ma’ruf sehingga tidak ada kekerasan dalam rumah tangga, baik kekerasan fisik, psikis, seksual maupun ekonomi.

Sustainable Development Goals (SDGs)

SDGs merupakan  program pembangunan berkelanjutan yang menjadi agenda dunia  dan telah disepati oleh 193 negara anggota PBB,  termasuk Indonesia. SDGs diagendakan untuk  mewujudkan kesejahteraan manusia secara global dengan meliputi 17 tujuan  169 target yang terukur.

Tujuan SDGs

  1. Tanpa kemiskinan (pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat)
  2. Tanpa kelaparan (mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi serta menggalakkan pertanian berkelanjutan)
  3. Kehidupan sehat dan sejahtera (menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia)
  4. Pendidikan berkualitas (memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang)
  5. Kesetaraan gender (mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan)
  6. Air bersih dan sanitasi layak (menjamin akses atas air dan sanitasi untuk semua)
  7. Energi bersih dan terjangkau (memastikan akses pada energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua)
  8. Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi (mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua)
  9. Industri, inovasi dan infrastruktur (membangun infrastruktur kuat, mempromosikan industrialisasi berkelanjutan dan mendorong inovasi)
  10. Berkurangnya kesenjangan (mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara)
  11. Kota dan komunitas berkelanjutan (membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat dan berkelanjutan)
  12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan)
  13. Penanganan perubahan iklim  (mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya)
  14. Ekosistem laut (perlindungan dan penggunaan samudera, laut dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan)
  15. Ekosistem daratan (mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahan lahan menjadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati)
  16. Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh (mendorong masyarakat adil, damai dan inklusif)
  17. Kemitraan untuk mencapai tujuan (menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan)

Penutup

SDGs dengan pengertian dan tujuan di atas, secara teologis,  jelas dapat dipandang  sebagai  implementasi dari program pembangunan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin di masa sekarang. Karena itu LAZISMU yang merupakan satu lembaga dari Persyarikatan Muhammadiyah yang ‘bermazhab’ Islam berkemajuan, menerima SDGs dan menjadikannya sebagai kerangka penyusunan dan pelaksanaan program-program yang ditetapkannya.

Dalam al-Qur’an digariskan bahwa program-program pembangunan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dilaksanakan dengan 4 kebijakan: dakwah, amar ma’ruf nahi munkar, jihad dan qital (perang). Jadi keempat kebijakan ini tidak menjadi tujuan pada dirinya sendiri, tapi untuk mewujudkan tujuan, visi, misi dan program-program Islam Rahmatan Lil ‘Alamin dan sudah barang tentu dengan aturan main yang sesuai dengan kesemuanya. Sesuai dengan posisinya di atas, LAZISMU melaksanakan SDGs dengan 3 kebijakan pertama yang digariskan al-Qur’an.

Wallahu a’lam bish shawab.

Dr Hamim Ilyas, MA, Dewan Syariah LAZISMU Pusat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*