Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Jumat , 23 Februari 2024
Breaking News
You are here: Home » Bencana & Kemanusiaan » Peduli Pengungsi Rohingya Muhammadiyah Wilayah Aceh Lakukan Aksi Kemanusiaan Layanan Kesehatan dan Psikososial

Peduli Pengungsi Rohingya Muhammadiyah Wilayah Aceh Lakukan Aksi Kemanusiaan Layanan Kesehatan dan Psikososial

Kaum Rohingya merupakan kaum yang terlunta-lunta di Asia Tenggara. Mereka tidak diakui sebagai warga negara Myanmar yang berakibat terusir, teraniaya dan mengalami pembunuhan. Padahal mereka sudah tinggal di Myanmar atau Burma jauh sebelum negara itu merdeka dari penjajahan bangsa Eropa.

Kaum Rohingya memang berbeda ras dengan mayoritas bangsa Myanmar. Mereka lebih dekat dengan bangsa Bengali atau Bangladesh. Rohingya mengalami nasib sebagai bangsa yang terbuang dan terusir dari tanah tempat tinggal dan kelahiran mereka.

Akhirnya mereka harus pergi dan menempuh perjalanan jauh dan berbahaya menuju ke negara yang bersedia menerima mereka dengan berbagai moda trasnportasi. Umumnya tujuan mereka adalah ke Bangladesh, Malaysia dan Indonesia. Ratusan orang Rohingya datang ke Indonesia pada tahun 2018. Pada medio 2023 kedatangan mereka semakin banyak.

Terlepas dari kontroversi mengenai kedatangan kaum Rohingya ke Indonesia, khususnya di provinsi Aceh Darussalam, yang belakangan ini semakin meningkat, sisi kemanusiaan tetap terus dilakukan oleh warga masyarakat Indonesia, tak terkecuali Muhammadiyah.

Persyarikatan Muhammadiyah bersama segenap unsur Majelis, Lembaga, Ortom dan Amal Usaha (AUM) di wilayah Aceh melakukan aksi kemanusiaan kepada kaum rohingya yang berada di kota Banda Aceh. Tepat pada awal tahun baru, tanggal 1 Januari 2024, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Aceh melaksanakan kegiatan sosial untuk kaum Rohingya berupa layanan kesehatan dan psikososial. Tujuan aksi adalah Aksi memberikan kepedulian dan perhatian kepada pengungsi Rohingya sebagai ikhtiar untuk menyelamatkan semesta.

Aksi ini diselenggarakan atas sinergi Lembaga Penanggulangan Bencana atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU), Organisasi Otonom Angkatan Muda (Nasyiah, IMM & IPM) di lingkungan PWM Aceh, dan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Aceh (Unmuha).

Sebelum kegiatan pengobatan gratis dan psikososial dimulai terlebih dahulu sekretaris MDMC Aceh Sukri Karim melakukan koordinasi dengan UNHCR lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa yang menangani pengungsi, IOM dan pihak keamanan di Balai Meusuraya Aceh (BMA) mengenai rencana akan diadakannya layanan kesehatan, pengobatan dan psikososial pada pengungsi rohingya.

Tim aksi mempersiapkan perlengkapan, peralatan dan mengatur alur pelayanan yang didahuli registrasi peserta, cek berat badan, pemeriksaan kesehatan oleh Dokter, peresepan obat dan pemberian obat. Selain itu, sebahagian pengungsi juga dilakukan pelayanan psikososial terutama pada anak-anak dan remaja. Sasaran penerima manfaat sebanyak 135 orang pengungsi kaum Rohingya.

Dari 135 orang jumlah pengungsi, tidak seluruhnya dapat dilayani hingga siang hari saat selesai pengobatan. Terdapat 41,48% dari jumlah total pengungsi yang mendaftarkan diri untuk berobat, dengan hasil diagnosis 15 jenis penyakit dengan 83 kasus. Kasus tertinggi adalah dermatitis 40,96%, diikuti ISPA 15%, dan ketiga Fever 10,84%, disusul dyspepsia, diare, infeksi sekunder, cephalgia dan tinea corporis. Satu orang pengungsi dirujuk dan dibawa oleh UNHCR ke Rumah Sakit karena tidak bisa ditangani di lokasi pengungsian.

Kondisi hunian atau tempat hunian pengungsi Rohingya saat ini berada di basement dan tampak seadanya, hanya dialasi terpal dengan sirkulasi udara yang kurang memadai. Sehingga mengeluarkan berbagai aroma yang kurang segar.

Kondisi kesehatan pengungsi Rohingya banyak mengalami penyakit gatal-gatal pada kulit, asam lambung dan sakit kepala. Kemudian sebagian anak mengalami batuk dan flu, pada badannya juga terdapat luka seperti kudis serta kuku yang panjang dan hitam. Terlebih lagi banyak anak-anak yang tidak mengenakan sandal atau alas kaki.

Jika dilihat kondisi psikologis pada anak-anak Rohingya khususnya di Pengungsian BMA memiliki perilaku yang cenderung aktif dan agresif. Sesama mereka sering memukul, melempar dengan benda apapun yang ada ditangannya. Apabila disandingkan dengan anak-anak lain yang tidak mengalami konflik seperti mereka, akan terlihat perbedaannya. Anak-anak Rohingya selain memiliki tubuh yang kurus dan terlihat seperti tidak terawat, mereka juga tampak kurang ceria. Perilaku yang ditampilkan hanya perkelahian dan merebut paksa mainan atau makanan yang ada ditangan temannya.

Sementara perilaku yang terlihat pada orang-orang dewasa pengungsi Rohingya tampak seperti lebih berhati-hati, takut, dan lebih tertutup. Setelah dilakukan pendekatan, hubungan antara Relawan MDCM dan pengungsi Rohingya mulai mencair. Mereka mengatakan bahwa, lebih memilihi tinggal di Aceh dari pada di Bangladesh karena disana mereka merasa tidak aman dan terancam keselamatannya.

Berdasarkan kondisi mentalnya, terdapat satu pengungsi yang mengalami mental illness dengan gejala emosi yang tidak terkontrol, tidak menjalin hubungan sosial, tidak merespon interaksi dari orang lain, dan gejala psikosomatis. Kemudian terdapat pula dua ibu hamil yang tidak lagi bersuami. Dua hari sebelum tim MDMC melakukan kunjungan, salah seorang ibu hamil mengalami pendarahan akibat stress.

Dari segi bahasa terdapat kendala karena dari kaum Rohingya hanya ada tiga orang yang dapat berbahasa Inggris. Sementara ketika pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan psikologis berlangsung maka jumlah penterjemah (translator) tidak mencukupi.

Adapun Rencana tindak Lanjut (RTL) yang akan dilakukan oleh Relawan MDMC dan Tim Kemanusiaan Muhammadiyah, antara lain :

  • Melakukan kegiatan kemanusiaan serupa atau bentuk lain di titik pengungsi lainnya yang tersebar di Aceh.
  • Melakukan pengembangan kegiatan selain kepada kelompok pengungsi, yaitu melakukan kegiatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat umum di tempat-tempat tertentu yang dianggap penting untuk dibantu sesuai keadaan.
  • Berinisiatif untuk menggalang simpati melalui forum dialog terbuka dengan mengundang berbagai pihak terkait untuk mapping dasar dalam kasus Rohingnya ini.

Demikian aksi kemanusiaan yang dilakukan oleh Persyarikatan Muhammadiyah pada awal tahun 2024. Semoga aksi kepedulian ini mampu membantu meningkatkan kualitas hidup kaum Rohingya di pegungsian. (Sumber: laporan Yankessos Rohingya – LRB PWM Aceh)

Yuk bantu Kaum Rohingya di Indonesia yang menderita dan terlunta-lunta. Salurkan donasi Anda melalui LAZISMU.

Rekening LAZISMU Kebencanaan dan Kemanusiaan

  • Bank Mu’amalat No. 7710015635 a/n LAZIS MUHAMMADIYAH JAWA TIMUR
  • Bank Syariah Indonesia BSI 9000002221 a/n LAZIS MUHAMMADIYAH JATIM HUMANITY

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*