Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Rabu , 10 Agustus 2022
Breaking News
You are here: Home » Dakwah » Sekilas Cerita Muhammadiyah Bangun Masjid di Pelosok Uganda, Afrika Timur

Sekilas Cerita Muhammadiyah Bangun Masjid di Pelosok Uganda, Afrika Timur

Sebuah Masjid dibangun oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui LAZISMU di pelosok negara Republik Uganda, Afrika Timur. Masjid dibangun untuk memberikan tempat ibadah yang layak bagi ummat Islam di kawasan pedalaman itu. Uniknya Masjid ini dibangun atas informasi dari seorang wanita WNI non Muslim yang menikah dengan pria Uganda. Nuansa pembangunan Masjid ini pun menunjukkan semangat toleransi yang tinggi antar umat beragama dan nilai kemanusiaan yang luar biasa. Tentu Pimpinan Pusat Muhammadiyah tak melupakan jasa baik seseorang yang membantu memberikan informasi tentang kondisi Masjid itu.

Pada pertengahan tahun 2021, sekitar bulan Juni-Juli, beredar sebuah video viral di media sosial tentang sekelompok jamaah di dusun Mbale, Busiu Village, distrik Wmema, Sironko, pedalaman negara Uganda. Mereka beribadah Sholat di Masjid dengan kondisi yang sangat kurang layak. Masjid tersebut hanya beralaskan tanah liat yang dilapisi dengan tikar bekas plus terpal lusuh dengan tiang kayu bekas beratapkan pelepah daun kelapa.

Sampailah informasi tersebut ke salah satu Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta, Anwar Abbas. Gayung pun bersambut, Anwar Abbas menyampaikan ke Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mukti tentang kabar adanya Masjid di Uganda yang bangunannya kurang layak sehingga butuh perhatian dan kepedulian. Segera saja jajaran PP Muhammadiyah itu memerintahkan kepada Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) di bawah kepemimpinan Ketuanya, Hilman Latief, PhD, guna menindaklanjuti sebagaimana mestinya.

Yang pertama dilakukan oleh LAZISMU adalah melakukan assessment, mengumpulkan data dan informasi yang lengkap. Tentu ini menjadi pekerjaan yang sangat menyulitkan, mengingat lokasi Masjid yang akan dibantu bukan berada di tanah air, juga bukan di kawasan negara-negara Asia, tetapi nun jauh disana di benua Afrika, Yakni Uganda. Direktur Utama LAZISMU PP Muhammadiyah waktu itu, Muhammad Sabeth Abilawa mencari jalan dan upaya bagaimana mendapatkan informasi yang memadai tentang Masjid di kawasan itu sebagai salah satu pemenuhan Standard Operating Procedure (SOP) yang harus ditempuh oleh LAZISMU.

Tak kurang akal, LAZISMU kemudian mengontak Kedutaan Besar Republik Indonesia di Nairobi, Kenya, yang membawahi negara Uganda dan beberapa negara di Afrika timur. Dubes M Hery Saripudin kemudian menunjuk satu nama Warga Negara Indonesia (WNI) yang sudah lama tinggal di Uganda dan biasa melakukan pekerjaan sosial (Relawan/volunteer), serta mempunyai akses hingga ke pelosok negara Uganda.

Perlu diketahui bahwa Republik Uganda berada di Afrika Timur, berbatasan dengan negara Sudan, Tanzania, Rwanda, Kongo dan Kenya. Uganda memiliki populasi penduduk muslim sebesar 13,7 persen menurut data tahun 2014. Sedangkan mayoritas penduduknya adalah Nasrani 82%, dan sebagian kecil lagi menganut agama lokal, animisme dan dinamisme. Hubungan bilateral antara Indonesia dengan Uganda sudah terjalin sejak tahun 1982. Uganda masuk dalam wilayah akreditasi KBRI Nairobi, Kenya. Sementara Kedutaan Uganda di Kuala Lumpur, Malaysia diakreditasikan untuk Indonesia.

Nama yang ditunjuk oleh Dubes RI adalah Emmy Sabar Manurung. Wanita Batak kelahiran Sumatera Utara 44 tahun silam ini sudah tinggal di Uganda selama 13 tahun dan menikah dengan pria asli Uganda namun berkebangsaan Inggris. Dari pernikahan keduanya, Emmy dan suami dikaruniai 4 (empat) orang anak. Emmy sebenarnya adalah ibu rumah tangga, namun pekerjaan sosial kemanusiaan juga ditanganinya. Ia pun sebagai koordinator komunitas Indonesia yang ada di Kampala, Uganda. Emmy, WNI yang sudah menghabiskan separuh usianya di luar Indonesia ini, beberapa kali bertugas mewakili INH (International Networking of Humanitarian) untuk urusan kemanusiaan antarbangsa, baik di Uganda maupun nagara-negara Afrika lainnya.

Menurut Emmy, ketika dihubungi melalui WA call, (18/07/22), di Uganda WNI yang tinggal disana hanya puluhan orang saja. Mereka adalah pegiat NGO/LSM, pekerja perusahaan asing atau perusahaan Indonesia yang membuka cabang dan perwakilan di Uganda. Jika ada turis WNI hanya bisa dihitung dengan jari.

LAZISMU lalu menunjuk dan menugaskan Emy Sabar Manurung untuk meng-assessment dan melakukan pengkajian lapangan terhadap rencana pembangunan Masjid di desa Mbale, Sironko, distrik Mwema, pelosok Uganda itu. Walaupun Emmy seorang Nasrani hal itu tak menjadi penghalang bagi sebuah tugas kemanusiaan. Emmy pun menyambut dengan gembira dan antusias tugas ini. Baginya, berbeda agama dan keyakinan tidak menjadi masalah untuk sebuah tugas kemanusiaan dan perdamaian.

Tugas assessment dan pengkajian segera dilakukan oleh Emmy. Bersama beberapa orang komunitas Indonesia dan relawan atau volunteer lokal, Emmy bergerak menuju lokasi yang menjadi tujuan. Perjalanan dari ibukota Kampala menuju ke lokasi di desa Mbale, Sironko, distrik Wmema, memakan waktu lebih kurang 6-7 jam. Perjalanan tidak semuanya berada di jalan yang mulus, mendekati lokasi kondisi jalan tidak begitu baik dan rusak, hingga sampailah di jalan pedesaan tidak beraspal.

Sesampai lokasi, Emmy dan Tim relawan segera menghubungi kepala desa adat, tokoh Muslim dan bangsawan kerajaan setempat. Walau Uganda adalah negara Republik dan dipimpin oleh Presiden, namun keberadaan Raja-raja adat menjadi panutan bagi masyarakat setempat, sesuai dengan sukunya masing-masing. Ternyata desa itu salah satu kawasan yang populasi Muslimnya cukup besar di Uganda.

Emmy kemudian menyampaikan niat dan maksud PP Muhammadiyah kepada kepala desa dan pihak kerajaan lokal untuk membantu pembangunan Masjid bagi masyarakat Muslim di desa itu. Maksud baik itu disambut dengan gembira oleh kepala desa dan pihak kerajaan setempat. Mereka tidak mengira bahwa yang akan membantu pembangunan Masjid justru dari Saudara sesama Muslim, dari negara yang berada ribuan kilometer nun jauh di sana.

Kondisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat Muslim disana kebanyakan miskin dan berpenghasilan rendah. Masyarakat Muslim di desa itu hidup dengan bercocok tanam, berladang dan mencari hasil alam di hutan. Apalagi kawasan itu berada di pelosok yang jauh dari kehidupan masyarakat modern. Jarak antara Kampala, ibukota Uganda ke desa itu sekitar 250 kilometer jauhnya. Menurut Emmy, Masjid tersebut tidak layak dipakai untuk beribadah. Sedangkan masyarakat Muslim di kawasan itu sangat tekun beribadah menjalankan Sholat lima waktu dan membaca al-Qur’an di Masjid itu.

Emmy bersama Tim datang bersamaan dengan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 76, 17 Agustus 2021. Maka Jadilah kegiatan assessment hari itu diselingi dengan perayaan HUT RI secara kecil-kecilan Bersama masyarakat desa Mbale. Tampak suasana kegembiraan tergambar pada raut wajah warga desa Mbale. Doa dan harapan pun terucap dari warga desa dalam perayaan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Setelah mendapatkan data dan informasi yang cukup, Emmy dan Tim Relawan selanjutnya balik ke Kampala dan melaporkan hasil assessment kepada LAZISMU PP Muhammadiyah. Laporan assessment dari Emmy dan Tim itu menjadi jalan pembuka bagi dimulainya proses pembangunan Masjid bantuan Muhammadiyah di Uganda.

Penggalangan dan Pembangunan Dimulai

Akhirnya setelah melalui prosedur internal, pada tanggal 19 Agustus 2021 LAZISMU memutuskan untuk menghimpun dana dan membangun masjid bagi umat muslim di kawasan pelosok Uganda, Afrika Timur. Direktur Utama LAZISMU PP Muhammadiyah waktu itu, Muhammad Sabeth Abilawa, menyatakan seluruh jaringan struktural LAZISMU akan menghimpun dana dan dananya akan digunakan untuk membangun satu unit masjid di pedesaan yang jauh dari Kampala, Ibukota Uganda.

Pembangunan Masjid itu dimaksudkan untuk membantu komunitas muslim di desa yang bernama Mbale itu, agar memiliki tempat ibadah yang bersih, representatif dan layak. Manurut Sabeth masyarakat Uganda sejatinya bersaudara dengan masyarakat Indonesia dalam hal kemanusiaan.

Sabeth mengatakan bahwa PP Muhammadiyah melalui LAZISMU terdorong untuk membantu masyarakat muslim di pelosok Uganda agar bisa beribadah dengan layak. Maka diputuskan untuk melakukan penggalangan dana kepada ummat Islam di Indonesia guna membangun masjid yang layak di sana, kata Sabeth seperti dikutip dalam keterangan tertulisnya di kantor PP Muhammadiyah Jl Menteng Raya 62 Jakarta, Kamis 19 Agustus 2021.

Sabeth menjelaskan, pembangunan masjid itu akan dilakukan secepat mungkin bekerja sama dengan komunitas Indonesia di Uganda dan para volunteer lokal yang direkrut LAZISMU di negara itu. LAZISMU akan membantu pembangunan masjid di salah satu negara Afrika Timur tersebut dengan biaya sebesar 10.738 USD atau setara dengan 155 juta rupiah atau sekitar 134,7 juta Shilling Uganda.

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah yang Maha Kuasa, penghimpunan dana yang ditargetkan hanya Rp 155 juta, terkumpul hingga Rp 500 juta lebih dalam tempo sebulan. Penggalangan Sebagian besar dilakukan secara online sehingga relative lebih efektif dan efisien. Bank BUMN (BSI) dan beberapa korporat tingkat nasional pun turut menyumbangkan dana.

Masih menurut Sabeth, awalnya rancangan bangunan Masjidnya sederhana saja karena untuk kenyamanan ibadah bagi kaum muslimin disana. Anggaran yang disediakan sebenarnya hanya untuk memperbaiki masjid yang sebelumnya tidak layak kondisinya menjadi layak. Hanya butuh Rp 155 juta, namun dengan perkembangan situasi dan kondisi serta  banyaknya dukungan partisipasi masyarakat di Indonesia, maka wujud dan luasan masjid disepakati untuk diubah sehingga diperkirakan menghabiskan dana Rp 550 juta. Jika telah rampung, Masjid tersebut akan bisa menampung sekitar 200-300 jamaah.

Maka rancangan bangunan pun segera dirubah. Ukuran Masjid dibuat lebih besar dari rancangan semula, menyesuaikan dengan anggaran dana yang masuk. Sesuai S.O.P. LAZISMU, proses pembangunan Masjid dilakukan oleh pemborong lokal. Namun demikian, warga masyarakat sekitar, baik Islam maupun non Islam, tidak bisa dicegah ikut serta bergotong royong dan bekerja bakti membantu para tukang, dengan maksud agar bangunan Masjid lekas berdiri.

Alhamdulillah, maka dalam waktu 3 bulan berdirilah sebuah bangunan Masjid yang representatif dan sangat layak di desa Mbale, senilai USD 35.000 atau Rp 550 juta. Masjid bantuan PP Muhammadiyah itu kemudian diberi nama at-Tanwir Mosque, Muhammadiyah Movement Indonesia. Emmy Sabar Manurung selaku koordinator lapangan terus melaporkan kepada LAZISMU tahap demi tahap proses pembangunan Masjid hingga jadi.

Pada bulan November 2021 Emmy selaku kordinator sempat meminta jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk berkenan hadir ke Uganda meresmikan Masjid tersebut. Namun dengan berbagai pertimbangan dan kesibukan PP Muhammadiyah belum dapat hadir untuk meresmikan. PP Muhammadiyah justru mempersilahkan warga Muslim setempat menggunakan Masjid itu untuk beribadah walau belum diresmikan.

Emmy juga menceritakan bahwa warga Muslim disana sangat bergembira dengan bangunan Masjid yang baru. Pun demikian dengan warga non Muslim juga tak kalah riangnya. Mereka semua menyambut dengan sukacita. Hal itu, menurut Emmy, menunjukkan bahwa semangat toleransi antar ummat beragama di Uganda sangat tinggi. Masing-masing ummat yang berbeda agama dan keyakinan sangat menghargai satu sama lain.

Jika terjadi permasalahan atau sengketa di kawasan desa itu, akan diselesaikan secara musyawarah, baik oleh pihak desa adat maupun kerajaan lokal serta tokoh-tokoh agama. Uganda adalah salah satu negara di Afrika timur yang aman, masyarakatnya hidup rukun dan minim dijumpai konflik sosial, politik atau agama.

Semangat toleransi dan kerukunan antar ummat beragama di negara itu bisa menjadi cerminan bahwa semua umat berbeda agama dan keyakinan dapat hidup berdampingan secara rukun dan damai tanpa ada konflik dan tidak saling mencampuri urusan agama satu sama lain. Justru kebersamaan dan perdamaian menjadi titik yang menonjol dalam pola kehidupan tersebut.

ADITIO YUDONO | Sekretaris LAZISMU wilayah Jawa Timur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*