Salah satu isu yang mengemuka dan sempat viral di tanah air adalah akan terjadinya bencana besar, Megathrust. Megathrust adalah gempa bumi yang terjadi di zona subduksi aktif, yaitu area di mana dua lempeng tektonik bertemu dan berbenturan keras. Gempa megathrust merupakan gempa terkuat di dunia dan berpotensi memicu terjadinya tsunami besar. Di Indonesia, zona megathrust sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia.
Mengantisipasi dan mempersiapkan kesiapsiagaan akan bencana tersebut Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur atau lebih dikenal dengan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menyelenggarakan Seminar dan Workshop Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana Megathrust. Kegiatan yang didukung oleh LAZISMU ini dilaksanakan sehari pada Selasa, tanggal 12 November 2024 di Hall Mas Mansyur gedung Muhammadiyah Jatim, Jl Kertomenanggal IV/1 Surabaya.
Peserta Seminar dan Workshop sejumlah 100 orang terdiri dari para Relawan MDMC Daerah (PDM) se-Jawa Timur, Majelis-Lembaga-Ortom Muhammadiyah Jatim terkait dan undangan. Tujuan khusus seminar dan workshop adalah untuk mempererat ikatan persaudaraan antar relawan Muhammadiyah, meningkatkan pengetahuan terkait isu megathrust, membangun sinergitas dalam gerakan mitigasi dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana megathrust dan menyusun rencana kontijensi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana megathrust.
Para narasumber dan pembicara yang hadir antara lain Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si.
memberikan materi “Historical and recent large megathrust earthquakes in Indonesia”, BPBD Wilayah Jawa Timur dengan materi “Risiko Megathrust di Jawa Timur dan penerapan strategi pengurangan risiko”, disampaikan oleh Dadang Iqwandy, S.T., M.T. selaku Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan – BPBD Provinsi Jawa Timur.
Pembicara lainnya, Ketua LAZISMU PWM Jawa Timur Imam Hambali MSEI dengan topik “Peran dan Strategi Optimalisasi Pengelolaan Pendanaan Filantropi Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana dan Ketua MDMC PWM Jawa Timur M Rofii tentang “Strategi Penanggulangan Bencana Megathrust dan Peningkatan Kapasitas Relawan Muhammadiyah”.
Sedangkan dari Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) / MDMC PP Muhammadiyah yaitu Wahyu Heniwati, S.E., M.M. selaku Koordinator Bidang Mitigasi dan Kesiapsiagaan memandu Focus Group Discussion (FGD).
Dari kegiatan ini diharapkan pemahaman relawan terkait isu megathrust, pengetahuan relawan terkait mitigasi dan kesiapsiagaan bencana megathrust menjadi meningkat. Selain itu akan terbit dokumen rencana kontijensi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana megathrust.
Indonesia Negeri Ring of Fire
Indonesia merupakan salah satu negara yang berkategori rawan bencana, karena secara geologis terletak di antara lempeng Asia, Pasifik, Australia, serta terletak di cincin api (gunung berapi) yang masih aktif, yaitu sebanyak 129 gunung. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki karakteristik geografis beragam baik secara tatanan tektonik, dinamika meteorologis dan klimatologis merupakan wilayah yang rawan terhadap bencana alam. Selain itu, Indonesia dilalui oleh dua jalur gunung api dunia, yaitu sirkum pasifik (Pacific Ring of Fire) dan sirkum mediterania yang melintasi wilayah Pulau Sumatera, Jawa, dan Nusa Tenggara hingga Sulawesi Utara.
Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang (UU) Nomor 24 Tahun 2007 bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan / atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Selanjutnya, isu terkait bencana megathrust sedang banyak diperbincangkan dan menjadi perhatian lembaga/ institusi/ komunitas penanggulangan bencana di Indonesia. Gempa megathrust adalah gempa bumi berukuran sangat besar yang terjadi di zona subduksi, dimana salah satu lempeng tektonik bumi terdorong ke bawah lempeng tektonik lainnya. Peta zona megathrust di Indonesia menunjukan beberapa area subduksi aktif yaitu Sunda yang meliputiSumatra, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba.
Kemudian, terdapat Subduksi Banda, subduksi Lempeng Laut Maluku, Sulawesi, Lempeng Laut Filipina, dan Utara Papua. Pengetahuan terkait megathrust, zona dan segment megatrust, serta magnitudo megathrust perlu dikaji lebih dalam guna meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan masyarakat.
Oleh karena itu, M Rofii Ketua Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, pihaknya berinisiasi untuk menyelenggarakan seminar dan workshop mitigasi dan kesiapsiagaan bencana megathrust.
“Tujuan Membekali relawan Penanggulangan Bencana Muhammadiyah dengan pengetahuan terkait isu megathrust, serta mitigasi dan kesiapsiagaan yang perlu dilakukan,” sambut M Rofii Ketua MLHPB PWM Jatim di hadapan peserta Seminar dan Workshop.
“Tidak hanya seminar dan workshop, MLHPB (MDMC) PWM Jatim juga menggerakkan para relawan dan semua stake holder guna mengantisipasi hal tersebut. Outcome dari kegiatan ini adalah tumbuhnya motivasi relawan terhadap aktivitas penanggulangan bencana, kemudian meningkatnya sikap prososial relawan terhadap aktivitas penanggulangan bencana. Selain itu juga meningkatnya kesiapan relawan dalam respon tanggap darurat bencana megathrust,” Tambah M Rofii dalam sambutannya.
“Harapannya, pimpinan dan relawan penanggulangan bencana Muhammadiyah di Jatim dapat memahami lebih dalam terkait megathrust dan dapat menyiapkan atau meningkatkan mitigasi dan kesiapsiagaan tentang bencana megathrust,” harap M Rofii, Ketua MLHPB atau MDMC Jawa Timur. (Adt)
[divider]







