Call us: +6231-8437-191 : lazismu_jatim@yahoo.com| Jumat , 30 September 2022
Breaking News
You are here: Home » Inovasi Sosial

Inovasi Sosial

Lebih dari lima tahun sudah periode ini berjalan sejak disahkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah paskamuktamar tahun 2015 di Makassar. Secara kelembagaan, lima tahun sudah Lazismu memasuki sebagai lembaga amil zakat nasional sejak menerima izin operasi dari Kementerian Agama RI tahun 2016 yang didasarkan pada UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolan Zakat.

Dalam lima tahun terkahir ini pula Lazismu mencanangkan berbagai agenda perubahan internal dan eksternal dalam rangka meningkatkan perannya di masyarakat. Dimulai dengan Langkah-langkah penguatan kapasitas kelembagaan dan peningkatan akuntabilitas sebagai pondasi Lazismu untuk dapat menata dan meningkatkan kinerjanya sebagai Laznas yang gerakannya lebih ‘terintegrasi’ dengan seluruh cabangnya di tingkat provinsi dan daerah.

Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) yang telah disahkan, Lazismu kemudian lebih membuka diri dengan memasukan isu-isu pembangunan berkelanjutan dan transformasi digital sebagai bentuk lanjutan gerakannya di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, kesehatan dan kemanusiaan. Kini, Lazismu mencoba memasuki babak baru menjelang Muktamar Muhammadiyah di tahun 2022, yaitu mendorong penguatan Inovasi Sosial untuk mempercepat agenda perubahan yang diusungkan sebagai Lembaga filantropi Islam yang terkemuka di Indonesia.

Inovasi Sosial adalah Tajdid dan Ijtihad

Perubahan sosial, ekonomi dan kebudayan dalam masyarakat kini berlangsung begitu cepat. Sebagian besar perubahan itu bahkan tak terimajinasikan sebelumnya oleh khalayak umum. Siapa yang menyangka bahwa dalam 10 tahun terakhir revolusi teknologi berjalan dengan sebuah lompatan peradaban dan kebudayaan yang begitu dahsyat yang menyebabkan sebagain besar masyarakat kita tergagap-gagap menyikapinya.

Dunia bisnis sudah mulai didominasi oleh pasar berbasis digital, lembaga pendidikan sudah mulai harus mengadopsi berbagai kanal teknologi baru yang dianggap lebih efektif dalam melakukan proses belajar dan mengajar, dan perilaku berdonasi dari masyarakat kelas menegah, termasuk di kalangan Muslim, juga sudah mengalami pergeseran dengan preferensi layanan yang mudah, cepat dan akuntable melalui teknologi digital. Tentu, hal itu semua menjadi tantangan bagi sebuah lembagai filantropi Islam seperti Lazismu.

Tantangan-tangan perubahan itulah yang menjadi dasar perlunya inovasi baru bagi sebuah lembaga filantropi. Meskipun falsafah Lembaga filantropi Islam, secara umum, dan lembaga amil zakat, secara khusus, didasarkan pada prinsip-prinsip keagamaan, bukan berarti bahwa pergerakan filantropi menjadi kaku. Pasalnya, ajaran-ajaran ekagamaan dalam Islam, prinsip-prinsip perubahan dan perwujudan keadilan sosial (al-‘adalah al-ijtima’iyyah) yang didorong al-Qur’an justru melampaui rumusan-rumusan fikih zakat yang masih bersifat kaku dan rijit.

Muhammadiyah, sebagai induk organisasi Lazismu, sudah menunjukkan pengalaman yang laur biasa dalam mendorong perlunya perubahan dari cara berfikir, cara mengekspresikan keislaman, dan cara berogranisasi melalui gerakan pembaruan yang solutifdan inovatif atau dikenal sebagai  ‘tajdid’ dan ‘ijtihad’.

Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah,  KH Ahmad Dahlan, adalah model seorang inovator kreatif yang berani berfikir dan bertindak di ‘luar kotak’ (out of the box). Artinya, Ahmad Dahlan mampu keluar dari praktik-praktik keagamaan yang menjadi kebiasaan-kebiasaan dan merambah gaya baru yang dianggap sangat penting untuk dilakukan.

Inovasi Ahmad Dahlan dapat dilihat dari cara menerjemahkan dan memaknai Surat al-Ma’un sehingga menjadi sangat fungsional dan melahirkan inovasi sosial. Dahlan mengaitkan Surat ini dengan problematika kemiskinan dan menawarkan gerakan kolektif dalam menangani  kelompok-kelompok terpinggirkan, anak yatim dan anak jalanan atau anak terlantar.

Inovasi Dahlan juga dapat dilihat dari kemampuannya mengambil inisiatif, menawarkan strategi, mengimplementasikan semangat Islam dan mengoiptimalkan asset sosial dalam menangani fakir miskin pada waktu itu. Objektifikasi nilai-nilai Islam versi Ahmad Dahlan, meminjam istilah dari Kuntowijoyo,  diwujudkan dalam bentuk amal-usaha dan insfranstruktur sosial lainnya guna memberikan solusi konkret terhadap masalah-masalah sosial, terutama ketimpangan dan kemiskinan.

Dengan kreativitas dan inovasi, suatu entitas kecil bisa berpengaruh besar terhadap perubahan masyarakat, bahkan dunia. Demikian pula sebaliknya.  Di masa kolonial, sebuah kawasan paling luas di Asia Tenggara, Nusantara, dijajah selama ratusan tahun hanya oleh sebuah kerajaan kecil Belanda. Bukankah Persyarikatan Muhammadiyah hanya berawal dari sebuah pengajian beberapa orang anak muda di kampung Kauman, Yogyakarta?

Masih ingatkah dengan kisah ini: bagaimana ketika seorang anak muda (Kyai Sujak) dan saudaranya ditertawakan masyarakat ketika sedang menyampaikan ide kemajuan?  Kita perlu merenungkan kembali pidato terakhir KH Ahmad Dahlan pada Kongres Muhammadiyah tahun 1923. Meskipun sudah hampir satu abad lalu, tapi isinya masih segar dan relevan untuk saat ini. Di dalam pidatonya, di sana disebutkan bahwa permasalahan keumatan dan kebangsaan, bila diringkas, berakar dari masalah kepemimpinan masyarakat, seperti: 1) kurang wawasan; 2) banyak bicara dan kurang kerja; 3) belum memperhatikan kepentingan bangsa dan hanya mementingkan kelompoknya sendiri, bahkan dirinya sendiri saja.

Oleh karena itu, orang harus beragama dan meningkatkan pengetahuan  untuk dapat menjadi penggerak kemajuan. Ia berpesan, “jangan merasa lelah dalam bekerja dan menghidup-hidupkan Muhammadiyah!” Dengan pidato setajam itu, semestinya mampu mendorong diri kita  untuk melakukan instrospeksi sosial yang, jika diperkaya dengan kreativitas dan imajinasi, niscaya akan melahirkan berbagai-bagai inovasi sosial.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa tema inovasi sosial yang diusung Lazismu adalah bagian dari penerjemahan terus menerus tentang konsep tajdid dan ijtihad untuk memberikan lebih banyak kemudahan bagi Lazismu dalam melakukan perubahan di masyarakat. Inovasi dilakukan untuk menegaskan dan mengukuhkan bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang lincah, berpikiran maju, penuh inisiatif, dan inovatif. Tugas Lazismu sebagai bagian dari gerakan filantropi Islam Muhammadiyah adalah memproyeksikan agenda perubahan yang lebih tertata, sistematis, berdampak luas dan berkelanjutan.

Lantas bagaimana konsep “Inovasi Sosial” dimaknai dan diterjemahkan oleh Lazismu? Penting kiranya untuk memahami konsep dasar dari inovasi sosial yang berkembang saat ini. Dalam berbagai literatur digambarkan bahwa inovasi sosial memiliki penekanan makna yang beragam.

Gagasan inovasi sosial erat kaitannya dengan “berfikir inovatif” dalam mendorong perubahan social, ekonomi dan lingkungan dengan cara berfikir di luar kotak (think out of the box) untuk menghindari cara bekerja apa adanya dan seperti biasanya (business as usual). Inovasi sosial kerap dibutuhkan dalam situasi-situasi darurat atau pada saat krisis dimana solusi-solusi baru sedang dicari. Ada sejumlah alasan mengapa inovasi social perlu menjadi agenda Lazismu ke depan.

  • Hampir seluruh sektor bisnis dan pendapat ekonomi saat ini ditentukan oleh inovasi, baik inovasi teknologi, inovasi gagasan, dan inovasi pengetahuan. Hal ini juga menunnjukkan bahwa masalah kesejahteraan ekonomi, kualitas hidup masyarakat, dan produktivitas sebuah kelompok sosial akan ditentukan oleh inovasi.
  • Perubahan sosial yang menjadi rujuan dari filantropi harus mulai diimajinasikan dengan melalui gagasan inovatif. Masyarakat sudah dituntut untuk dapat membayangkan masa depan mereka untuk sepuluh ataupun bahkan tiga puluha tahun akan datang dan mempersiapkannya sejak dini. Dalam hal ini, lembaga filantropi bukanlah Lembaga yang hanya memliki imajinasi pendek dan program-program instan yang juga berjangka pendek. Sebaliknya, imajinasi perubahan sosial yang berkelanjutan sudah dapat diprediksikan dan dirumuskan oleh lembaga filantropi
  • Gerakan filantropi Islam sudah saat ini sudah harus mulai membangun strategi baru dalam menerapkan program dan kebijakannya. Kebijakan strategis tersbeut dapat diterjemahkan dari berbagai referensi utama dalam pembangunan, mulai dari RPJMP pemerintah, keputusan-keputusan-keputusan strategis induk organisasi (Muhammadiyah), rumusan-rumusan konseptual dari masyarakat dunia seperti UNDP, UNICEF, UNESCO, dan sebagainya, seperti halnya konsep Sustainable Development Goals.
  • Gerakan filantropi Islam memproduksi sebanyak-banyaknya “social inovator” dan agent-agent perubahan inovatif di berbagai wilayah. Harus doipahami saja bahwa tugas Lembaga filantropi bukan lagi hanya ‘menyalurkan dana bantuah’ dalam bentuk tradisionalnya. Lebih dari itu, Lembaga filantropi dapat berperan dalam mencetak innovator dan inspirator dalam komunitas dan masyarakat.

Saat ini masyarakat sedang mengalami pergeseran, dari sekedar “masyarakat industrial” kepada masyarakat “yang berbasis pengetahuan dan layanan”  dalam melakukan inovasi di era perubahan teknologi. Inovasi sosial adalah inovasi yang dari awal perumusan hingga tujuannya bersifat sosial. Perubahan praktik sosial yang lebih efisien dan efektif dalam masyarakat, baik secara individu, kelompok maupun kelembagaan, dalam menyelesaikan masalah secara berkelanjutan menjadi tujuan dari dilakukannya inovasi sosial.

Dalam sebuah lembaga filantropi Islam, inovasi sosial mencakup lahirnya gagasan-gagasan baru (produk-produk baru, layanan-layanan baru dan model-model baru, jaringan-jaringan baru) yang lebih efektif dan efisien dalam masyarakat untuk menyelesaikan masalah sosial di sekitarnya, termasuk masalah ekonomi, lingkungan, pendidikan dan kesehatan. Dari gambaran di atas, perubahan praktik sosial dalam inovasi sosial dari sebuah Lembaga filantropi Islam dapat disederhanakan sebagai berikut: Solusi baru, solusi efektif, solusi kreatif, solusi inspiratif dan solusi yang menggerakkan.

Inovasi Berbasis Pengetahuan

Tantangan untuk melakukan inovasi bagi sebuah lembaga amil adalah kemampuan untuk merumuskan  gagasan-gagasan kreatifnya. Inovasi bukanlah sebuah produk instan.  Inovasi adalah bagian dari ketajaman instink, kekayaan pengalaman, keluasan wawasan, ketajaman visi, cara berfikir kreatif  dan spirit untuk terus berubah. Karena itu, solusi inovatif, kreatif, dan efektif harus didukung oleh proses yang memadai dan komprehensif dari para amil. Apalagi, inovasi yang akan ditawarkan adalah untuk menjaga keberlanjutan sebuah tujuan pembangunan, seperti yang dirumuskan dalam SDGs atau yang dirumuskan dalam enam pilar Lazismu.

Inovasi berbasis pengetahuan yang dimaksud tidak hanya dipahami dalam konteks akademik. Inovasi berbasis pengetahuan lebih mengarah kepada proses pengambilan keputusan yang dilakukan sebelum menjalankan sebuah program.  Proses tersebut meliputi:

  • Mengidentifikasi masalah atau persoalan.
  • Mengumpulkan data-data yang memadai terkait masalah yang dikaji.
  • Mengnalisis inti masalah dan cara menyelesaikannya.
  • Melakuan bencmarking dan mempelajari best prakticse dari lembaga-lembaga atau innovator-inovator lain di dalam maupun luar negeri
  • Identifikasi modal (resource) baik dalam bentuk sumber daya uang, sumber daya manusia, dan sumber daya kemitraan yang dimiliki.
  • Pencarian dan penentuan mitra strategis dl dalam dan di luar persyarikatan
  • Perumusan program prioritas dan tahapn-tahapan pelaksanaannya
  • Membuat peta jalan dan jangka waktu pelaksanaan untuk menjaga kesinambungan dan keberlanjutan.
  • Menentukan fokus dan mendalami bentuk inovasi yang ditawarkan.
  • Mencetak inovator (individu maupun kelompok) yang dibutuhkan di tempat program dilaksanakan.

Dengan demikian, dapat ditegaskan lagi bahwa bahwa proses diskusi yang mendalam, serius dan sistematis berbasis data yang memadai menjadi prasyarat untuk menawarkan sebuah inovasi. Selain itu,   inovasi sosial  yang berdampak luas tidak dapat dilakukan sendiri, melainkan harus menggandeng mitra-mitra strategis baik berbasis kampus (PTM), berbasis korporasi, maupun masyarakat sipil lainnya.

Para Inovator, Enam Pilar dan Pembangunan Berkelanjutan

Bagaimana mencari inovator yang diharapkan bisa mengakselerasi Lazismu? Ada berbagai kelompok kreatif dalam masyarakat, baik di dalam maupun di luar persyarikatan, baik individual maupun kelompok, yang bisa digandeng menjadi mitra.

Perguruan tinggi adalah salah satu entitas yang sangat memungkinkan untuk digandeng sebagai mitra. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) memiliki data base yang cukup lengkap dan program-program unggulan pemberdayaan masyarakat yang inovatif yang layak untuk diakselerasi dan didukung pendanaannya oleh Lazismu.

Oleh karena itu, berbagai workshop, focus group discussion (FGD), dan dan diskusi lainnya antara Lazismu dengan LPPM dari berbagai kampus, khususnya PTMA, menjadi faktor penting untuk melahirkan inovator-inovator sosial yang akan menjadi bagian dari Gerakan filantropi Lazismu. Misalnya, beberapa kelompok dosen dan mahasiswa telah melakukan penelitian, membuat design pemberdayaan (ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, inovasi pengajaran di pedesaan) dan melakukan berbagai uji coba program untuk peningkatan kesejahteraan ataupun kualitas hidup masyarakat di sebuah daerah.  Lazismu yang mempromosikan inovasi social dapat menggandeng kelompok peneliti/pemberdayaan masyarakat sebagai mitra strategis untuk penguatan inovasi sosial untuk pembangunan berkelanjutan.

Organisasi masyarakat sipil ataupun Lembaga swadaya masyarakat di luar Persyarikatan Muhammadiyah yang memiliki visi sejalan dengan Muhammadiyah dan Lazismu, serta memiliki karakteristik Gerakan yang khas adalah mitra strategis lainnya yang data digandeng oleh Lazismu.

Beberapa Lembaga swadaya masyarakat di Indonesia memiliki agenda spesifik dan model gerakan yang juga sangat spesifik, seperti LSM yang memiliki pengalaman panjang secara khusus untuk melakukan pendampingan dan pemberdayaan keluarga para buruh pabrik, pendampingan pekerja migran dan kelompok difable,  sekolah-sekolah di daerah-daerah terpencil, dan petani-petani di daerah kekeringan dan lain-lain. Terdapat juga kelompok-kelompok pemuda dan lembaga swadaya masyarakat yang giuat mengkampanyekan perdamaian, pemeliharaan lingkungan, meningkatkan partisipasi para remaja dalam literasi digital, dan sebagainya.

Korporasi adalah mitra strategis lainnya yang bisanya juga memiliki tujuan sosial selain tujuan bisnis. Sebauh tujuan sosial tidak hanya milik dari lembaga sosial. Saat ini, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor sudah memiliki tujuan-tujuan sosial yang sangat mungkin dikolaborasikan  dengan lembaga filantropi. Dalam konteks inilah Lembaga filantropi melalui program-program dan tawaran-tawaran solusi inovatifnya  harus mampu meyakinkan pihak korporasi untuk dapat bermitra.

Dalam konteks inilah, Lazismu ke depan harus mampu menjadi jangkar dan jembatan untuk mendorong akselerasi pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan melalui inovasi sosial melalui kemitraan dengan orang/kelompok dalam mencari solusi-solusi baru terhadap masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Langkah seperti bukan saja akan menjawab keterbatasan sumberdaya manusia Lazismu dalam mencapai enam pilar (pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial-dakwah, kemanusiaan dan lingkungan), tetapi juga memperluas pengaruhnya dalam masyarakat yang lebih luas.

Untuk itu, Lazismu dapat secara spesifik mendorong semakin banyaknya inovator-inovator di berbagai bidang. Secara kelembaagan inovasi Lazismu dapat diarahkan untuk mengakselerasi inovasi sebagai berikut: inovasi fundraising, inovasi teknologi digital, inovasi penguatan sumber daya, inovasi program & kegiatan, inovasi strategi perubahan sosial, inovasi penyelesaian masalahm dan inovasi kemitraan serta rumusan-rumusan indikatornya.

Selain itu, terkait dengan tujuan pembangunan berkelanjutan, Lazismu disetiap provinsi dapat mengakselerasi pembentukan innovator dari berbagai kalangan, seperti  inovator di kalangan guru & pelajar, inovator di kalangan pegiat sosial muda, inovator di kalangan aktivis tenaga Kesehatan, inovator di sektor pemberdayaan ekonomi, inovator di sektor dakwah dan inovator  di kalangan pengiat lingkungan &  kemanusiaan.

Inovasi Berkelanjutan dan Lokalitas

Pencapaian SDGs hingga tahun 2030 memerlukan cara-cara kerja kreatif dan inovatif. Lazismu diharapkan menjadi jangkar dalam tubuh persyarikatan, seiring dengan tingkat kepercayaan yang semakin tinggi, dalam memberikan solusi efektif untuk mengatasi permasalahan sosial, terutama dalam menghadapi masalah ketimpangan dan kemiskinan.

Sejauh ini, semangat yang dimiliki para amil dan aktivis persyarikatan sudah sangat besar, begitu juga cakupan kerja serta rutinitas kegiatannya sudah sangat luas dan intensif. Namun demikian, dalam rangka memperkuat dampak dan menjaga meningkatkan kontribusinya untuk pembangunan berkelanjutan, Lazismu masih memerlukan banyak dukungan para inovator.

Program pemberdayaan masyarakat yang mampu mengatasi permasalahan sosial serta pemanfaatan aset secara berkelanjuta,  tidak dapat diselesaikan oleh, misalnya, Ilmu Ekonomi saja. Para ahli ekonomi dan pengambil kebijakan di sektor tersebut sering kali hanya sampai pada pemahaman, tetapi gagap dan bahkan gagal memberikan solusi kreatif-inovatif. Kegiatan pemberdayaan masyarakat semacam membutuhkan kerja kolaboratif. Kerja sama antara sektor publik, sektor swasta, dan inisiatif dari sektor sosial seperti Lazismu sangat diperlukan.

Pembangunan berkelanjutan dalam konteks Indonesia dapat dimulai dari keberpihakan sebagaimana yang tercermin dalam teologi atau fkih al-Maun. Belajar dari gerak persyarikatan di abad pertama, proses penguatan Gerakan Muhammadiyah hampir semuanya bermula dari model pembangunan dan pemberdayaan komunitas lokal. Mirip materi pelajaran di sekolah dasar yang diambil dari para ahli pembangunan maupun aktivis sosial: “Berpikir global dan bertindak lokal!” Dari situlah kemudian gagasan inovasi sosial muncul dan berkembang. Kini, dengan kelincahan organisasi dan kemajuan teknologi, banyak entitas kecil berpengaruh besar, karena mereka berhasil menangani masalah-masalah sosial-ekonomi melalui inovasi sosial.

Merujuk “Inovasi Sosial” yang menjadi tema Rakernas tahun ini dan sesuai dengan Peta Jalan Renstra LAZISMU 2021-2025, tugas dan tanggung jawab kita dalam Sidang Komisi di sini, saat ini, adalah untuk menjawab pertanyaan: Bagaimana merumuskan Program Inisiatif untuk mencapai Target Kinerja Nasional  satu tahun ke depan (2022) berdasarkan Indikator Kinerja Utama (IKU), Indikator Kinerja Aksi Layanan (IKAL), dan IKAL Enam Pilar dalam perspektif Inovasi Sosial dan SDGs? Oleh karena itu, dokumen Renstra (terutama Bab 7, halaman 69-87) harus sudah dibaca dan dipahami. Dengan demikian, Renstra  menjadi “referensi hidup” dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasi. (Bidang Program Lazismu Pusat)

Perahu Siaga Bencana

Comments are closed.