Peran dan Langkah LAZISMU dalam Merespon dan Mensikapi Perubahan Iklim di Indonesia

LAZISMU merupakan lembaga pengelola dana ZIS dibawah Persyarikatan Muhammadiyah yang dalam gerakannya memiliki visi untuk menjadi organisasi amanah, transparan dan profesional. Salah satu upaya untuk mewujudkan visi profesionalitas tersebut adalah dengan mengelola dana titipan umat setepat mungkin. Ketepatan dalam penghimpunan, ketepatan dalam penyaluran dan ketepatan dalam tata kelola kelembagaan secara terus menerus diupayakan. Oleh karenanya proses pengambilan kebijakan hingga implementasi program di semua sektor harus berdasarkan kajian dan data terpercaya (evidence based) agar bisa dipertanggung-jawabkan secara ilmiah dan diukur hasilnya untuk pengembangan selanjutnya.

Kemudian, dalam bidang lingkungan, krisis iklim semakin genting. Dunia Dihadapkan Planetary Crisis. Saat ini, dunia dihadapkan pada tiga krisis multidimensi atau planetary crisis yang amat mengkhawatirkan, salah satunya adalah krisis iklim. Disebut sebagai krisis iklim karena saat ini laju perubahan iklim semakin tidak terkendali, dampaknya yang begitu luas, ancamannya yang amat serius, dan tingkat kesulitan yang tinggi untuk mengatasinya. Tak ayal, saat ini dunia makin menyorot fenomena krisis yang tidak main-main ini.

Salah satu wujud nyata krisis ini adalah kenaikan suhu rata-rata bumi yang sudah mencapai 1,1 derajat C. Lewat kutipan Antonio Guterres, Sekretariat Jenderal PBB, ”Perubahan iklim sudah ada di sini. Itu menakutkan. Dan ini baru permulaan. Masih mungkin untuk membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5 derajat C dan menghindari perubahan iklim yang paling buruk. Tapi, hanya dengan aksi iklim yang lebih dramatis dan langsung.”

Pola pembangunan ekonomi yang mengutamakan pertumbuhan tanpa mengindahkan batasan-batasan planet bumi menjadi salah satu penyebab krisis iklim hadir di muka bumi. Penguasaan sumber daya yang terpusat di tangan segelintir elit telah mendorong produksi dan konsumsi yang tidak berkelanjutan sehingga emisi karbon menjadi tidak terkendali

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil emisi terbesar dunia sekaligus negara yang memiliki kerentanan tinggi terhadap krisis iklim. Indonesia merupakan negara sepuluh besar penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Laporan terbaru dari Global Carbon Project menyebutkan jumlah emisi karbon yang dihasilkan Indonesia meningkat sebesar 18.3% pada tahun 2022, peningkatan paling banyak dibandingkan negara-negara lainnya. Capaian kenaikan emisi disumbang dari penggunaan energi fosil (khususnya batu bara), alih fungsi lahan, dan deforestasi Indonesia yang tinggi.

Namun, bukan hanya sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca, Indonesia juga menjadi negara yang rentan terhadap krisis iklim. Hal tersebut disebabkan letak geografisnya yang merupakan negara kepulauan. Dari dokumen Kebijakan Pembangunan Berketahanan Iklim, terdapat 4 sektor utama yang paling rentan terhadap perubahan iklim di Indonesia. Empat sektor tersebut adalah, sektor kelautan dan pesisir, sektor pertanian, sektor air serta sektor kesehatan. Hari ini pun, dampak krisis iklim sudah dapat dirasakan oleh masyarakat umum di Indonesia, dari peningkatan intensitas bencana hingga kerugian ekonomi yang ditimbulkan.

Dibutuhkan Pemahaman dan Aksi kolektif Untuk Meningkatkan Skala Solusi Iklim. Para pihak didorong untuk turun tangan mencari solusi atas permasalahan ini. Salah satu bentuk yang dilakukan LAZISMU ialah berkolaborasi dengan lembaga-lembaga yang berkhidmat dalam isu lingkungan. Saat ini yang mendesak untuk segera ditangani adalah perubahan iklim.

Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Perubahan iklim merupakan proses yang terjadi secara dinamik dan terus menerus yang dampaknya sudah sangat dirasakan. Saat ini perubahan iklim sudah terasa khususnya pada wilayah tropis. Perubahan iklim dapat mempengaruhi multisector baik sektor kesehatan, sosial hingga sektor ekonomi. Hal ini jika dikaji lebih dalam berdampak kepada kehidupan sehari-hari.

Pemahaman terhadap krisis iklim menjadi semakin penting dan krusial di saat ini, termasuk bagi LAZISMU, sebagai lembaga pengelola dana ZIS di bawah Persyarikatan Muhammadiyah yang pada tahun 2020 lalu meluncurkan lingkungan sebagai pilar yang baru. LAZISMU Muhammadiyah dapat menjadi katalisator untuk melaksanakan program pendanaan tepat sasaran bagi beragam solusi adaptasi dan mitigasi krisis iklim di tingkat tapak.

Sejak berdirinya LAZISMU tahun 2002 telah banyak melakukan program-program pendayagunaan dalam mendistribusikan dana ZIS pada 6 pilar diantaranya ialah: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, Sosial-Dakwah, Kemanusiaan, dan Lingkungan. Pilar Lingkungan merupakan pilar yang cukup baru di LAZISMU yakni dimulai pada tahun 2020.

Berdasarkan hasil laporan LAZISMU dalam Angka dan hasil Capaian SDG’s LAZISMU tahun 2022- Program pilar lingkungan memiliki prosentase kegiatan dan alokasi anggaran yang masih kecil yaitu 11% dari total program yang dijalankan LAZISMU. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi di lapangan. Banyak kegiatan lingkungan yang telah dilakukan Muhammadiyah dan LAZISMU baik di wilayah kota, provinsi maupun daerah namun kemungkinan belum menyentuh hingga level terbawah juga bisa menjadi salah satu faktor yang mempengaruhinya. Sehingga untuk menyelesaikan gap yang ada dibutuhkan kapasitas knowledge yang memadai terkait isu lingkungan.

Disisi lain dengan adanya amanah Muktamar terkait isu lingkungan, LAZISMU perlu mengidentifikasi awal dampak perubahan iklim diberbagaisektor dan Kajian kompeherensif agar tahu apa yang semestinya dikontribusikan secara konkret dan efektif. Oleh karenanya sebagai Langkah awal, LAZISMU Pusat berinisiasi untuk melakukan kegiatan Riset sekaligus Workshop Adaptasi Perubahan Iklim di Indonesia dan Peran LAZISMU. Kegiatan tersebut akan berkolaborasi dengan MADANI dan melibatkan LAZISMU Daerah yang terpilih yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Kegiatan diawali dengan Workshop yang akan dilaksanakan di Jakarta, 3-4 Agustus 2024. Peserta workshop sekitar 34 orang adalah Amil LAZISMU dari berbagai Daerah Kabupaten dan Kota di Indonesia. Penentuan 34 wilayah kabupaten/kota ini didasarkan pada Kajian Awal BAPPENAS dipadukan dengan analisis MADANI Berkelanjutan yang memprioritaskan kategori kabupaten/kota superprioritas ketahanan iklim.

Ketahanan iklim didefinisikan sebagai tindakan antisipasi yang terencana ataupun spontan untuk mengurangi nilai potensi kerugian akibat ancaman bahaya, kerentanan, dampak, dan risiko perubahan iklim terhadap kehidupan masyarakat di wilayah terdampak perubahan iklim. Peningkatan ketahanan iklim di Indonesia difokuskan pada 4 sektor terdampak perubahan iklim yaitu:

  1. Sektor Kelautan dan Pesisir pada potensi bahaya oleh peningkatan tinggi gelombang yang dapat mempengaruhi keselamatan pelayaran dan peningkatan tinggi muka laut yang mengakibatkan penggenangan atau banjir di wilayah pesisir;
  2. Sektor Pertanian pada potensi penurunan produksi tanaman pangan padi;
  3. Sektor Air pada potensi peningkatan kejadian kekeringan dan penurunan ketersediaan;
  4. Sektor Kesehatan pada peningkatan indikatif kejadian luar biasa penyakit DBD, malaria, dan pneumonia

Materi yang akan dikaji dan didiskusikan dalam workshop meliputi : Dasar-dasar perubahan iklim, Identifikasi tantangan, potensi, dan inovasi adaptasi perubahan iklim, Identifikasi tantangan perubahan iklim di daerah rentan dan Strategi implementasi dan rencana aksi.

Tindak lanjut dari Workshop ini diharapkan akan lahir dokumen Laporan Hasil Riset “Dampak Perubahan Iklim di Indonesia dan Peran LAZISMU”, yang didalamnya memuat beberapa poin diantaranya sebagai berikut :

  • Pemahaman dasar terkait perubahan iklim beserta landasan teologinya.
  • Peta dampak dan resiko perubahan iklim di Indonesia (tiap provinsi) lintas sektor.
  • Intervensi program yang dapat dilakukan pada wilayah yang terdampak.
  • Serta best practice program yang pernah dijalankan Madani yang sesuai dengan ketentuan Syariah.

Sebagai catatan, MADANI Berkelanjutan merupakan lembaga nirlaba yang bergerak menanggulangi krisis iklim melalui riset dan advokasi. MADANI Berkelanjutan berupaya untuk mewujudkan Pembangunan Indonesia yang berimbang antara aspek ekonomi, ekologi, dan social.

Fokus kerja MADANI Berkelanjutan meliputi isu hutan dan iklim, komoditas berkelanjutan, Pembangunan berkelanjutan pada tingkat daerah dan biofel. Pentingnya kajian perubahan iklim di LAZISMU menjadikan salah satu latar belakang terbentuknya kolaborasi riset  lingkungan antara R&D LAZISMU dan MADANI Berkelanjutan selaku lembaga yang membidangi isu lingkungan. (*)

[divider]

 

Scroll to Top